AGAMA ITU MENDEKATI...


Segala puji bagi ALLAH, yang kita puji, yang kita minta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita meminta perlindungan kepada ALLAH dari segala keburukan jiwa kita, dari kejelekan amal perbuatan kita kerana siapa pun yang diberi petunjuk oleh ALLAH maka tak seorang pun dapat menyesatkannya dan orang yang disesatkan oleh ALLAH maka tak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahawa tidak ada ilah selain ALLAH dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ALLAH berselawat dan bersalam kepadanya, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Engkau menghukum di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami kebenaran yang menjadi bahan perdebatan dengan seijin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepda siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”

Saudara-saudaraku perlu tahu - yang semoga ALLAH memberikan ampunan kepadaku dan kepada kalian- bahawa Risalah ini memang sangat singkat, sederhana dan memudahkan pemahaman terhadap Islam, sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad. Kerana di antara rahsia paling agung dari risalah Muhammad adalah kesederhanaan, kemudahan  dan memudahkan.
Firman Allah,
“ Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” 
 ( QS. Al-Qamar : 17)

Keistimewaan agama Islam adalah bahwa siapa pun dapat memahaminya, mulai dari orang tua yang sudah renta sekali, orang yang buta huruf, anak-anak, sampai orang pedalaman. ALLAH sebagai agama yang universal bagi seluruh umat manusia. Dan itu ertinya bagi orang yang menyerukan dakwah kepada  ALLAH  adalah keharusan untuk menampilkan dan menguraikan kepada umat manusia dengan cara yang mudah, jelas dan pendekatan yang senang diingati. Kerana bisa jadi agama ini masuk ke dalam lingkungan metropolis maupun lingkungan yang tertinggal, dan dapat diterima dengan penuh kesedaran. Seandainya kita menawarkan Islam sebagai sesuatu yang mudah dan memudahkan sebagaimana yang ditawarkan oleh Rasulullah nescaya akan lebih baik.

Pernah seorang budak kecil perempuan datang kepada Rasulullah. Kepada budak tersebut Rasulullah berkata, “ Di mana Allah?” Budak itu menunjuk ke arah langit. Rasulullah kemudian bertanya lagi, “ Siapa aku?” Budak itu menjawab, “ Engkau adalah  Rasulullah.”  Serta merta Rasulullah berkata kepada tuan budak perempuan itu, “ Bebaskanlah ia kerana ia adalah seorang yang mukminah.”

Ada seorang A’rabi bertanya kepadanya tentang siapa yang mengangkat langit dan yang membentangkan bumi, serta yang menegakkan gunung. Maka ketika Rasulullah memberitahukannya maka A’rabi tersebut langsung beriman dan masuk surga.

Tapi ada seorang A’rabi lain yang datang dari padang pasir dan menambatkan ontanya di pintu masjid lalu bertanya kepada Rasulullah tentang agama.

Kata orang tersebut itu, “ Wahai Rasulullah , untuk siapa engkau berseru?” Jawab Rasulullah, “ Aku berseru kepada Allah satu-satunya yang bila engkau ditimpa mudarat lalu engkau berdoa kepada-Nya maka lalu akan membukakan mudarat itu darimu, yang bila engkau tersesat di suatu tempat yang tandus lalu engkau berdoa kepada-Nya maka Ia akan mengembalikanmu, dan yang bila engkau ditimpa kemarau panjang maka berdoalah kepada-Nya nescaya musim itu akan dikembalikan kepadamu.”

DIA PANCARAN CAHAYA ILAHI

“ Paduka Rasul Muhammad adalah sosok besar yang jika kau pandang dari mana pun maka kau lihat ia di atas umat manusia laksana matahari di ufuk cakrawala tertinggi yang bersinar di waktu Dhuha”

Sebagaimana matahari yang terbit, memancarkan sinar-sinarnya dan mengalirkan sumber cahaya yang disebut siang, Nabi S.A.W pun lahir dan mewujudkna sumber cahaya yang disebut agama di tengah-tengah manusia. Tiadalah siang kecuali kesadaran hidup yang mewujudkan karya-karyanya , dan tiadalah agama kecuali kesedaran diri yang merealisasikan keutamaan-keutamaannya.

Matahari diciptakan Allah S.W.T dengan membawa karakter bersinar dalam kerjanya mengubah materi , sedangkan Nabi S.A.W diutus Allah S.W.T dengan membawa karakter yang sama dalam kerjanya mengangkat dan meluhurkannya.

Sensasi sinar matahari merupakan kisah hidayah (petunjuk) bagi semesta raya dalam wicara cahaya, sementara sinar-sinar wahyu dalam diri Nabi S.A.W merupakan kisah hidayah ( petunjuk) bagi manusia semesta dalam cahaya wicara.

Agen Ilahiah yang agung berkerja dalam sistem diri dan bumi dengan dua perangkat yang hampir sama : Benda-benda bercahaya berupa matahari dan bintang-bintang, dan benda-benda berakal berupa para nabi dan rasul.

Nabi S.A.W bukanlah tokoh besar manusia yang sejarahnya dibaca dengan pemikiran yang disertai logika kemudian skeptisme, kemudian dikaji berdasarkan prinsip-prinsip karakter manusia pada ummnya. Akan tetapi, beliau adalah manusia bening yang dibaca dengan “teleskop” ketelitian yang disertai dengan ilmu dan iman, kemudian dikaji berdasarkan prinsip-prinsip karakteristik kebercahayanya yang khas.

Kehidupan memang yang membangun disiplin ilmu sejarah, namun dalam metodologi pengkajian sejarah para nabi sejarahlah yang membangun ilmu kehidupan. Sebab nabi adalah pancaran cahaya ilahiah pada umat manusia ( humanisme) yang membimbingnya ke dalam lintasan moralitasnya dan menariknya ke dalam kesempurnaan ( tatanan) yang merupakan copy hukum gravitasi dalam tata surya.

Nabi S.A.W datang dengan membawa hakikat Ilahian yang dikemas dengan retorika semi yang retorik ( al-fann al-bayani) agar lebih impresif, lebih mdah difahami dan lebih me-narik ( amazing), tak ada sedikitpun yang menyalahi estetika rasa ( alhiss). Dan ini merupakan metodologi (usluh) yang membuat manusia menjadi seni segenap manusia, sebagaimana balaghah yang menjadi seni bahasa secara keseluruhan. Nabi hadir sebagai sosok penerang di saat manusia terombang-ambing dalam kehidupan tanpa tahu ke mana mereka menuju dan bagaimana mereka melangkah. Jutaan manusia terombang-ambing kebingungan dalam lumpur ambisi yang mencentang-perentangkan mereka dan menghempaskan mereka, kemudian diciptakan seorang manusia untuk menjadi penjelas atas apa yang telah laud an apa yang tengah dan akan terjadi. Dengan kehadiran sang nabi, hakikat-hakikat keluhuran  ( al-adab al-aliyah) yang menjadi kompas dan lintasan hidup manusia pun terpapar secara demonstratif dalam diri seorang manusia yang beraktivitas dan terlihat nyata laiknya khalayak manusia, sehingga menjadi lebih mengena daripada jika hakikat-hakikat tersebut dikemas dalam bentuk narasi kisah seorang penutur.

Kesaksian atas kenabian tidak lain merupakan bentuk kesaksian bahawa diri nabi lebih segala-galanya daripada diri kaumnya sebagai sebuah karakter tunggal yang hanya dimiliki oleh dirinya, seolah-olah beliau adalah “posisi diri” yang tepat yang sengaja dibangun untuk meluruskan kekeliruan posisi umat manusia di alam materi dan persaingan bertahan hidup, dan seolah-olah hakikat luhur yang termanifestasikan dalam diri sang nabi ini menyerukan kepada seluruh umat manusia : Terimalah prinsip ini dan luruskanlah kekeliruan dan penyimpangan hidup kalian.

Dari sini dapat disimpulkan bahawa nabi seluruh umat manusia ( nabi al-basyariyyah) adalah orang yang diutus dengan risalah agama yang berisi daftar kerja yang sangat elaboratif bagi diri dan memenuhi kemaslahatan diri. Ia memberikan “nalar praksis” ( al-aql al-amah) yang baku dan permanen, namun terus berubah-ubah dan aktif memperbarui diri bagi kehidupan di setiap masa sebagai motor pengatur keadaan diri agar tetap berada dalam kondisi prima (mizah) dan penuh wawasan ( bashirah), dan sebagai motr pengatur kondisi alam agar tetap berjalan di atas garis lintasan dan petunjuk. Inilah substansi Islam dalam pengertian terspesifiknya yang tidak dimiliki oleh agama lain dan tidak mampu dipenuhi oleh sastra, ilmu maupun filsafat mana pun, seolah-olah ia merupakan sumber cahaya di bumi sebagaimana halnya matahari yang menjadi sumber cahaya di langit.

Semua ini termanifestasikan dalam diri Muhammad S.A.W yang secara keseluruhan merupakan diri yang paling top dan tidak ada seorang pun yang lebih sempurna daripada diri beliau di muka bumi ini. Meskipun seandainya seluruh keutamaan kaum cerdik cendekia, filsuf dan orang –orang yang didewa-dewakan di muka bumi digabungkan menjadi satu di dalam satu paket , ia tetap tidak bisa menandingi kesempurnaan diri Nabi Muhammad S.A.W. seolah-olah diri beliau seperti mutiara yang dikeluarkan dari dalam rumah kerangnya, atau seperti intan yang dikeluarkan dari tempat penambangannya, atau seperti emas yang dikeluarkan dari dalam sumbernya. Ia adalah sosok besar yang jika kau pandang dari mana pun, maka akan kau lihat ia di atas umat manusia laksana matahari di ufuk cakrawala tertinggi yang bersinar di waktu Dhuha.

Itulah prototype sang Nabi Muhammad S.A.W sebagai penutup para nabi dan prototype agamanya sebagai agama umat manusia yang terakhir. Sehingga dapat dikatakan bahawa agama ini secara keseluruhan tidak lain dan tidak bukan adalah citra diri yang agung tersebut, dan  dengan demikian harus diukur dengan parameter hak kemanusiaan yang baku, bukan dengan parameter manusia yang berubah-ubah yang kerana sebab tertentu seperti gunung batu yang menjulang tinggi dan kerana sebab lain seperti air tawar yang mengalir lembut.

(matan buku : AIR MATA NABI - coming soon)

AKUKAH MUSUH MUKMIN ITU? (matan)


Pejuang-pejuang Islam khususnya yang sering rindu untuk melihat negara ini dan dunia ini indah dihiasi dengan kalimah-kalimah Allah.Ingatlah! Pesanan dari Sayidina Umar:
‘Aku lebih takut pada dosa-dosa kamu daripada
musuh-musuhmu, kerana bila kamu berdosa
Allah tidak akan menolong kamu lagi!
 Maka terbiarlah kamu pada musuh-musuhmu.”

Ketahuilah, kita tidak akan dapat melepaskan diri dari
musuh hanya dengan cara menyalah-nyalahkannya.

Aku datang lagi menemui anda. Janganlah saudara terperanjat dan jemu. Memang tabiatku mengulangi ziarah kepada orang-orang yang suka padaku atau pada yang simpati denganku atau paling tidak, yang sudi senyum padaku sekalipun senyum-senyum kambing.

Catatan  kali ini khusus untuk membawa para pejuang Islam berhadapan dengan musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah dan Rasul. Aku mahu para pecinta Islam semuanya supaya awas! Waspada! Dan berhati-hati terhadap musuh. Sebab licinnya musuh bagaikan . belut, garangnya bagaikan singa, bijaknya bagai kancil, hatinyan seperti harimau mengendap dan sensitifnya umpama lintah dan pacat.

Kalau pejuang Islam tidak boleh jadi umpama raja belut atau bapak singa atau ketua sang kancil atau Perdana Menteri harimau dan ibu lintah atau ibu pacat, bagaimana boleh kita
menang terhadap musuh-musuh kita itu?

Mana ada satu agama atau ideologi di dunia ini yang mengajar pada penganutnya tentang musuh-musuh mereka serta cara-cara menghadapi musuh-musuh itu secara serius dan begitu terang? Tapi perkara itu ada dalam Islam. Allah S.W.T, kerana sayangnya pada hamba-Nya telah menyempumakan Islam dengan menyatakan pada penganutnya siapa musuh Islam serta apa caranya menghadapi musuh itu. Itulah rahmat dan bukti kasih sayang Allah pada orang mukmin. Sebab bila kita tahu siapa musuh kita dantahu pula cara menghadapinya bererti separuh dan kemenangan sudah berada dalam tangan kita. Dan ini tidak berlaku pada orang-orang yang tidak kenal musuh atau kalau kenal pun tak tahu cara untuk menghadapinya.

Cuma sayangnya pejuang- pejuang Islam atau jemaah Islam hari ini nampaknya merupakan orang-orang yang tidak kenal musuh-musuh Allah itu atau kalau pun kenal tapi tidak tahu bagaimana hendak menghadapi musuh-musuh Allah dan Rasul itu. Hingga kerana itu mereka sentiasa dipermain-mainkan oleh musuh, samada mereka sedar atau tidak. Kalaulah keadaan ini dibiarkan berterusan nescaya perjuangan kita tidak akan sampai pada matlamamya. Hal ini wajiblah disedari oleh jemaah-jemaah Islam supaya perjuangan kita benar-benar berjalan di atas landasan Islam dan selamat sampai ke destinasinya; yakni apabila musuh-musuh itu dapat dikalahkan. Untuk itu lihatlah kembali ke dalam al-Qur’anul Karim dan Hadith Nabi yang khususnya menyatakan musuh orang-orang Mukmin.

Siapakah Musuh Mukmin Itu? 
Apakah ciri dan sifatnya?

BERSAMBUNG




RINDUKANLAH UNTUK MENYEMPURNAKAN AMAL...

Saudaraku yang baik, 
ketahuilah, syaitan itu berupaya menghancurkan amal kita pada tiga bahagian, yakni sebelum, sedang, dan sesudah. 


Sebelum beramal ditipu olehnya supaya kita mengurungkan niat untuk beramal. Ketika sedang beramal, ditipu olehnya supaya amal kita tidak sempurna. Ketika sudah beramal pun, ditipu olehnya supaya kita riya’ dan ujub, ingin amal itu dilihat dan dipuji orang.


Hendaknya kita amat waspada menghadapi tipuan-tipuan syaitan semacam ini. Kita harus menjaga sekuat-kuatnya ketiga moment amal tersebut. Dan kuncinya adalah sempurnakan ikhtiar baik saat berniat, saat melakukan, maupun saat amal itu selesai ditunaikan.


Manakala terdengar azan dikumandangkan dari masjid, waspadalah syaitan akan segera menasihati, “Tunggulah sebentar lagi sampai azan selesai.” Segera tepiskan bisikan itu dan pergilah ke masjid! Kerana, boleh jadi umur kita akan berakhir sebaik azan selesai. Kalau tidak segera solat, bahaya. Bimbang kita su'ul khatimah.


Ketika sampai di masjid, waspadalah syaitan akan kembali menasihati, “Duduknya dekat tiang saja supaya boleh bersandar kalau mengantuk.” tidak! Shaf pertama adalah shaf yang paling utama. Kejar dan sempurnakan ikhtiar kita!


Ketika usai mendirikan solat, waspadalah pula syaitan tak akan lelah untuk menasihati. Terjanglah godaan itu dengan cara menyempurnakan solat kita dengan wirid, zikir, doa, dan solat sunnah ba'diyah (kalau ada).


Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (iaitu) orang-orang yang khusyuk dalam solatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada guna. (QS. Al Mu'minuun (23): 1-3)


Manakala melihat orang-orang lain bergegas keluar dari masjid sebaik selesai sahaja solat, hati-hati. Syaitan tak akan segan membisiki hati, dengan perasaan ujub dan takabur. Hati pun serta merta akan memberi tanggapan. “Lihat orang-orang itu benar-benar tergoda oleh syaitan. Mungkin, imannya lagi lemah.” Ini meremehkan orang lain. Hakikatnya kita yang terjebak oleh tipu daya syaitan.


Pendek kata, peliharalah agar kita tidak menjadi riya’, dan sombong dengan amal-amal kita. Caranya dengan menikmati ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menyempurnakan setiap amalan kita.


Tampaknya amalan-amalan yang demikianlah yang akan membuat Allah mengurniakan ilmu lanjutan, yakni ilmu yang sebelumnya tidak kita ketahui. Ini hikmah lain dari ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menyempurnakan setiap amal. Kerana, “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya dengan sebaik-baiknya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang lain yang belum diketahuinya.”


Jadi, kalau kita ingin menjadi ahli ilmu yang luas, maka kuncinya adalah dengan berjuang menjadi ahli amal yang disempurnakan dan dijaga mutunya. Jangan tergiur oleh banyaknya amal, tetapi rindukanlah mampu menyempurnakan amal-amal kita.

DIRI KITA WAJIB BERHARGA DARI APA YANG KITA ADA....




Saudara – saudaraku, andaikata tujuan sudah ditetapkan, seperlahan apapun kita
bergerak insyaallah merupakan suatu kemajuan. Tapi bagi orang yang tujuannya
tidak tetap, segigih apapun bergerak boleh jadi menuju kehancuran.


Ada yang tujuannya hanya wang, ada yang tujuannya kepuasan. Tapi sebagai muslim paling
tidak ada tiga tujuan yang harus kita fahami sebagai manusia yang diciptakan
Allah.


Pertama, kita diciptakan oleh Allah untuk menjadikan segala aktiviti kita
sebagai ibadah. Itu ertinya andai kata saudara bisnes, ia adalah ibadah, bukan semata – mata
mencari wang ringgit semata.


Kedua, tugas hidup kita menjadi khalifah. Kita diberi kesempatan hidup di dunia
satu kali, Justeru kita harus berkarya sejauh  mungkin, sehingga saat
kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat
bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.


Ketiga, tugas kita dalam bahasa agama disebut dakwah. Ertinya apapun aktiviti
yang kita lakukan harus menjadi pencerminan peribadi peribadi yang menjadi
teladan dalam kebenaran.


Saudaraku, ada orang yang sibuk dengan membanting tulang demi mencari sesuap
nasi. Ini rugi, sudah tulang yang dibanting hanya sesuap yang dicari.


Imam Ali pernah mengatakan , barang siapa yang memang kesibukannya hanya
untuk mencari isi perut, maaf darjatnya tidak jauh beda dengan apa yang keluar
dari perut.


Kalau hanya mencari makan apa bedanya dengan kambing?


Maka kita harus tahu bahwa kita tidak disuruh mencari wang. Tetapi kita disuruh untuk menjemput rezeki kerana setiap makhluk sudah disiapkan rezekinya masing – masing.


Ada perbezaan mendasar antara “mencari” dan “menjemput”. Kalau “mencari itu ada kemungkinan tidak mendapatkan apa yang dicari. Tapi kalau “menjemput”,pasti ada. 


Kenapa? Kerana setiap orang sudah ada rezekinya.


Saya beri contoh, mencari isteri itu belum tentu dia punya isteri. tetapi menjemput isteri pasti sudah punya isteri kecuali mancari yang lain. Ini penting. 


“Waman yatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3, ertinya “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkannya.”


Maaf kalau saya mengambil sudut pandang Islam, kerana itu yang saya fahami.
Seorang Muslim, dikatakan professional kalau dia memenuhi dua hal.


Pertama, di dalam mencari, dia sangat menjaga nilai – nilai kejujuran, tepat janji, mutu kerja,
sehingga kalau dia mendapatkan wang maka dirinya lebih bernilai dari sebanyak
apapun wang yang didapatkan. kerana dia mencari dalam rangka untuk
membangun nilai – nilai.


Kedua, dalam mencari nafkah atau “menjemput rezekinya” dia sangat menjaga
sehingga terbangun nama baiknya. Dengan demikian, dia tidak pernah takut
kehilangan apapun.


Kalau wangnya banyak, dia lebih kaya dari wangnya. Tapi maaf, kalau corruptor wangnya banyak, rumah berharga, kenderaannya berharga, tanah berharga, tapi yang tidak berharga adalah dirinya.


Bayangkan ada orang yang mencari, dia telah mendapat dunianya, tapi dia tidak
mendapatkan dirinya. Natijahnya dia takut sekali kehilangan jabatannya, kerana itu
yang dia anggap sukses.


Kenapa orang takut turun dari jawatannya?


Insya'ALLAH akan disambung....

SELAMAT PULANG ABUYA!


Duhai ALLAH...
aku cuba untuk berhenti merintih dan menghiba
dalam bersimpuh kasih pada-Mu
belum reda jiwa yang sering mendesah ini
terutus lagi suratan yang sangat mengugah
seorang lagi hamba-Mu dijemput keharibaan-Mu....

Duhai ALLAH.....
dia tetap guruku walau apa tanggapan yang hinggap padanya,
bukan sedikit limpahan ilmu dan mindanya kutadah,
jadi pelita dalam hati nan kelam; melihat zulmat sendiri.
insan soleh berhikmah yang akhlaknya indah paripurna...

Duhai ALLAH....
entah apa lagi ujian batin yang bakal aku lewati nanti
satu demi satu , mereka yang bererti bagiku pulang pada-Mu...
mungkinkah ini petanda buatku ?

Duhai ALLAH...
puas aku bertahan untuk tidak menangis lagi
untuk tidak menukil gejolak hati yang persis enggan redha
sehari mampu aku bertahan.... meski aku di hadapan jasadnya
tapi hari ini aku gagal... air mataku menderas laju, hatiku lemas
saat ku tatap kembali gambar terakhir - nafasnya terhenti
dia murabbiku senyum pulas mengadap Kekasih kerinduannya...
senyuman terakhir seorang pejuang buat kita semua yang mengenalinya.
Selamat pulang Abuya! Selamat kembali, hai jiwa nan tenang!
al-Fatihah!


DI BAWAH LANGIT CINTA....RABBANI!


Abang…

dikau pernah bertanya dalam santai kita berbicara,

“berapa lama lagi agak anta, Rabbani terus diterima, didengari?”

spontan aku menyahut,

cuba mereda dalam dadamu yang tak kutahu apa yang bermain..,

“selagi anta ada…”

“kalau ana takder ?!”

aku tergamam, tapi bibirmu menguntum senyum memandangku

dikau lanjutkan katamu…

“itu yang ana tak mau.

Ana tak nampak selain ________ dan ________

boleh berdiri sendiri kalau sampai masanya nanti.

Ana nak dorang bersedia hadapi hari tu….

Ana tak mau dorang berasa bergantung sangat kat ana

Ana tahu dorang tu boleh buat tapi dorang sengaja jer tak nak.

Dorang tu adik-adik ana, tapi tak ikut macam abangnya ”

sempat dikau bergurau di hujung bait lirihmu.


Aku hanya bisa mendengar luah gundahmu meski dikau alas dengan canda,

Betapa mereka (Rabbani); ada dalam hatimu setiap ketika

Bukan rahsia sifatmu mendahulukan kepentingan Rabbani

dari urusan peribadimu

dan saat ini aku tahu adik-adikmu itu sangat merinduimu…!


Betapa tidak, bang….

Berpuluhan tahun mereka membesar bersamamu,

Mendadai setiap badai yang menerpa,

Menampung penuh syukur, nikmat kurniaan yang mendatang….

12 tahun di bawah langit cinta bernama Rabbani

dikaulah pemimpin, ayah, sahabat, teman dan adakalanya dikau bagai ibu

tempat tiap anak tenang merebahkan resah….

Kini dikau tiada lagi…bang.

Dikau tinggalkan mereka saat 13 tiang seri Rabbani mahu berdiri…

Dikau pasti melihatnya nanti….

sayupnya hati kami dan sayunya indera kami…


Abang….

Maaf, aku masih tak bisa meneruskan lagi…..


bersambung....

ALANGKAH BAHAGIANYA DIA DI SANA....

Semalam aku ketemu dia di bawah pohon rendang rimbun menghijau,

Dia menyambut penuh senyuman sebagaimana yang selalu teukir di bibir mugilnya.

Ku dakap dia yang bergamis emas bercahaya dan beridak hijau masih terus tersenyum dan dipersilakannya aku duduk di sisinya…

Sungguh tak mampu aku menunggu meluah rindu syahdu padanya

Ku sampaikan juga getar rindu para sahabat yang tak pernah terkurang…

Tak terucap satu bicara dari bibirnya tapi ada bening jernih terbit di pelupuk matanya.

Dia menangis… ya Rabbi kesalnya aku membuatnya rawan… maafi aku, sahabat.

Dia genggam erat tanganku dan menunjuk ke satu arah…

Aku lihat sesosok tubuh duduk antara dua sujud di hadapan kami.

Kemudian melantun alunan gemersik kalam-kalam Ilahi menusuk-nusuk jiwa…

Aduhai merdunya… bagai terhenti detak jantung dan aliran darahku.

Mungkinkah ini orang yang selalu dia ceritakan padaku, yang dirindui mendengar alunannya ?

Alangkah bahagianya dia di situ… rasanya mahu sahaja aku terus bersamamu di bawah pohon rendang itu…

Ku hadapkan wajahku padanya, mengapa engkau berterusan membisu? Enggankah kau berkata padaku?

Dia tetap membisu seribu bahasa….

Aku terdengar sayup-sayup azan bergema, dia menghilang.

Aku memanggil. Aku tersedar. Terjaga dari lena, rinduku menjemput mimpi bermakna itu…

NOTA RINDU MENGINGATIMU BIDUAN SYURGA...

Ini sekadar cebisan rindu tanpa berhujung pada sahabatku Asri Ibrahim. Sebuah ceritera dari himpunan kisah bersamanya, umpama sehelai benang kenangan dari sulaman nostalgia yang selalu mengetuk-ngetuk pintu ingatan padanya….

SEBULAN SEBELUM PEMERGIANNYA…

Jam : 2.30 pagi

Aku dan Asri yang baru sahaja selesai rakaman di rumah aku (*ini merupakan album khas yang paling panjang sesi rakamannya dan masih belum sempurna hingga kini) terus bergerak ke Bukit Beruntung – Bukit Sentosa. Kami berbual berkaitan album itu

ASRI IBRAHIM

…banyak lagi nak rakam tu.

AKU

Takper lah….pelan-pelan asal siap.

ASRI IBRAHIM

takut tak sempat jer….

AKU

masa rakaman tadi kan, meremang ana dengar…

ASRI hanya tergelak kecil.

AKU

Sayu jer....

ASRI IBRAHIM

Dah...dah….

Begitulah antara sikap ASRI yang enggan larut dalam kata sanjungan padanya walau sekecil apapun.

ASRI IBRAHIM

Anta jangan bagitau sape-sape

pasal album ni. biar siap dulu.

Kalau boleh selagi tak siap,

Sape pun tak boleh dengar….

AKU

Insya’Allah! No problem….

Selanjutnya kami berbual tentang album ‘Nostalgia Nada Murni’ – ada sesuatu yang mengusik hatinya…(aku akan kongsi kemudian cerita itu @ mungkin berdiam itu lebih baik). Bicara kami bertukar pada perbualan tentang perancangannya untuk keluarga. Kami sampai tempat yang ditujui – rumah ASRI yang sudah berubah wajah. Dua buah rumah diubah menjadi satu. Cantik. Indah. Aku bangga apa yag dihajatinya untuk membeli rumah sebelahnya termakbul. Sejujurnya itulah kali pertama aku datang ke rumahnya yang bernuansa baru itu.

ASRI IBRAHIM

Ni lah…yang dapat ana sediakan

untuk orang umah dan anak-anak.nak lebih lagi tak mampu.

Tu pun tak siap lagi, kat belakang tu…

AKU

Okey lah ni….

ASRI IBRAHIM

Ahah! Ana pun nak dorang selesa…

ana pun selalu tinggalkan dorang… jap

yer…

ASRI buat panggilan pada isterinya (KAK JANNAH) . Aku tengok jam sudah 3 pagi lebih. ASRI maklumkan yang dia sudah sampai.

AKU

Lain kali bawak lah kunci rumah….

ASRI IBRAHIM

Bukan tak nak bawak tapi kak Jannah tu tak bagi,

dia yang nak buka sendiri, nak sambut ana balik

tak kisah lah pukul berapa pun…..

AKU

Mak aiii…. Romantik gilerrrr…

ASRI IBRAHIM

Mestilah….jeles ker?

Kalo jeles, anta kena kahwin.

Suara tawa kami pecah sama dalam keheningan pagi itu. Kemudian ASRI masuk ke dalam rumah seketika dan keluar semula. Dikeluarkan Naza Ria terlebih dahulu dan diletakkan di hadapan rumah jirannya. Disusuli pula memasukkan kereta ke perkarangan rumahnya. Kami berbual lagi…

AKU

apa lagi yang anta nak tapi tak dapat lagi?

ASRI IBRAHIM

Apa maksud anta?

AKU

Yerlah…. Maksud ana yang anta rasa nak target

dapat dalam tahun ni….

ASRI IBRAHIM

Ada… Insya’Allah…ana nak…

Aku mendengar penuh berhati harapannya satu persatu, harapan seorang suami, ayah, ketua, sahabat, da’I dan yang paling mengharukan aku ialah apabila mendengar harapannya sebagai seorang hamba ALLAH. Katanya….

ASRI IBRAHIM

Bulan ramadhan ni, ana nak khatamkan Qur’an…

Ya ALLAH …

belum sempat Ramadhan menjelang, sahabatku ini dijemput bersimpuh keharibaan-Mu.

Ya RABBI….

Perkenankan cita-citanya untuk menjadi BIDUAN di Syurga-Mu.

Ya Hannan Ya Mannan….

rindunya aku pada senyum tawanya… aku hentikan dulu kenangan ini….kolam mataku sudah tak tertampung lagi….

CENDERAJIWA BUAT PADUKA RASUL


Di persimpangan sejarah yang amat gawat, simpulan perikemanusiaan diurai di atas sebuah bukit yang gersang…Gua Hira’.

Di situlah ALLAH membuka pintu Rahmat-Nya lalu melimpahkannya ke atas dunia ini. Rahmat yang menjelma dalam bentuk kerasulan seorang Nabi dan anak kunci yang hilang berkurun lamanya, telah pun diserahkan kepada Muhammad Bin Abdullah.

Itulah anak kunci Iman, Iman kepada ALLAH, kepada RasulNya dan kepada Hari Akhirat. Dengan anak kunci itu, Rasulullah membuka kesemua kunci, satu demi satu, lalu berkecailah segala pintunya.

Di bawah suluhan cahaya Gua Hira memancarkan kegemilangan Tauhid tatkala tersingkap hijab yang bersimpang-siur hingga jelas terlihat betapa dangkalnya kesyirikan, keberhalaan dan kekhurafatan. Semuanya terpancar indah dalam syahadah!

Saudara… ini bukan biografi Rasulullah. Kerana ‘Manusia Agung’ itu terlalu besar untuk membingkainya dalam sekat biografi yang sempit. Sungguh! Kita takkan mampu mempotretkan kejayaan sebuah kesempurnaan sejati yang ditorehkan “Penyelamat Umat Manusia’ ini, yang terlalu memukau untuk dilukiskan meskipun dalam goresan tinta emas sekalipun.

Sungguh, hati dipatri cinta Nabi

Dialah pangkal mulia

sumber bangga kita di dunia

Dia tidur di atas tikar kasar

sedang umatnya menggoncang tahta Kisra

Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga sedang umatnya di ranjang beradu lena

Di gua Hira ia bermalam

sehingga tegak bangsa, hukum dan negara

Kala solat, pelupuknya tergenang air mata

Di medan perang, pedangnya bersimbah darah

Dibukanya pintu dunia dengan kunci agama

Duhai, tiada pernahkan lagi ada

Yang melahirkan putra semacam dia?

Kepadamu Rasul, izinkan aku menyatakan dari galaunya hati dan compang-campingnya keimanan serta rendahnya darjat kecintaanku pada-Nya

Ya Rasulullah, sebagaimana kudengar dari para penutur kisah tentang sejarah kehidupanmu, satu yang selalu membuatku rindu dan tetap mencuba dengan mencintaimu, mengikutimu, menuruti ajaranmu, engkau mencintai LAPAR.

Rasulullah, begitupun kudengar , kuasamu yang menyatukan jazirah Arab tak menjadikanmu memilih singgasana bertahta emas dan permata atau istana megah nan mulia berdiri kukuh Satu yang selalu membuatku menangis pilu, engkau memilih KEMISKINAN sebagai jubah kebesaranmu.

Rasulullah, izinkan aku menemukan cintaku padamu dalam LAPAR dan KEMISIKINAN, agar ia tak menjadi bencana berujung kematian, agar ia menjadi jalan terang diriku menemukan-Nya.

Dia junjungan mulia Rahmat semesta alam

Persis sabitah cahaya
Di langit kelam gelita

Senyuman dia menawan
Penawar hati nan lara
Katanya selembut kiasan
Mendamai rasa gelora

Dia bak hujan menyimbah,
Tika tanah mencorak rekah
Pedati sirah pun berubah
Utusan yang penuh berkah

Dinyalakan nyawa cinta
Pada Allah dan RasulNya

Berselawatlah kerna ia bukti cinta

Berselawatlah nescaya tidak ada yang kecewa
Berselawatlah kerna dengannya pasti bahagia
Berselawatlah moga dengannya Baginda tidak lupakan kita
moga dengannya beroleh Syafa'at 'Uzma
moga dengannya akan damai di sana
moga dengannya kita ummat bahagia

Wahai Rasulku, tolonglah jangan lupakan aku, berilah syafaatmu kepadaku...
Insya Allah, akan ku lakukan...
(Mafhum hadith Tirmizi)


Tapi ya Rasul,
bagaimana aku dapat bertemu denganmu di saat hiruk pikuk begitu?
Carilah aku, kerna aku hanya berada di tiga tempat, tidak selainnya.
Itulah: "Sirat (titian), Mizan (timbangan), telagaku (haud)"
~(mafhum hadith Tirmizi)~


Saat semua manusia berkata nafsi-nafsi
Baginda tetap melantunkan ummati-ummati

"Pergilah kepada Nabi Nuh", kata Adam
"Pergilah kepada Nabi Ibrahim", kata Nuh
"Pergilah kepada Nabi Musa", kata Ibrahim
"Pergilah kepada Nabi Isa", kata Musa
"Pergilah kepada Nabi Muhammad", kata Isa


Seraya mendengar pengaduan ummat
lantas Baginda menuju arasy tersungkur sujud di hadapan Allah...
lama amat tangis penuh harap
sarat beban kesulitan ummat
seketika disingkap hijab-hijab ditajalli
sifat-sifat al-Rahman mengkagumkan

Wahai Muhammad,
angkatlah kepalamu yang mulia itu
pintalah apa sahaja, pasti Ku beri
pohonlah apa jua, akan Aku penuhi
"Ummatku Ya Allah, Ummatku Ya Allah"
(mafhum hadith Syufa'ah, Bukhari dan Muslim)


Berselawatlah kerna dalamnya terkandung cinta
Cintakan Allah dan RasulNya.