Semoga Allah yang Maha Kaya, memperkaya diri kita dengan perasaan tidak mengkehendakikan selain kepada Allah, kerana ternyata ramai orang kaya yang menjadi miskin, kerana keperluannya lebih banyak daripada kekayaannya. Sayangnya keperluan itu tidak pernah ada hujungnya, seperti minum air laut, makin diminum makin haus.Begitulah, ramai sekali orang yang diberi kekayaan duniawi tapi batinnya miskin, hari-harinya dilalui dengan sengsara kerana diperbudak oleh keinginan. Semoga Allah memperkaya kita dengan rasa puas terhadap segala yang ada. Kita akan mengupas hikmah dari Imam Ibnu Atailah dalam kitab Al-Hikam seperti berikut ini:-
"Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah dan orang yang terbatas rezekinya, iaitu orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah.
"Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah dan orang yang terbatas rezekinya, iaitu orang yang sedang berjalan menuju kepada Allah.
Orang yang telah sampai kepada Allah kerana mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa.
Sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas mereka inipun mengeluarkan sekadarnya."
Orang yang kaya adalah orang yang sedikit keinginannya, dan senang menafkahkannya. Orang yang miskin adalah orang yang sibuk menyembunyikan hartanya dalam tabungan; dia miskin kerana takut berkurang rezekinya. Makin banyak berkurang, makin merasa miskin. Orang yang kaya tidak pernah takut terhadap kekurangan, orang yang kaya hakiki adalah orang yang yakin kepada jaminan Allah sehingga dia ringan bersedekah kerana sedekah itu tidak akan mengurangi harta melainkan akan menambahnya. Jangan melihat kekayaan orang lain dari apa yang dimilikinya, tapi lihatlah kekayaan seseorang dari apa yang boleh dinafkahkannya.
Kekayaan lain adalah ilmu. Orang yang kaya dengan ilmu, leluasa dalam mencari ilmu, dia sampaikan kepada yang lain sesudah dia amalkan. Tapi ada orang yang punya ilmu, kemudian dia kikir tidak mahu memberikan kepada yang lain. Ciri keilmuan seseorang adalah kalau dengan ilmunya dia makin lapang; makin dekat dengan Allah dan makin gemar memberikan ilmunya bagaikan cahaya matahari.
Kekayaan yang kita bahas di sini sebenarnya adalah kekayaan yang disebut ahli ma'rifat, iaitu orang yang mengenal Allah dengan baik. Dia kaya dengan pengenalan akan keagungan kebesaran Allah, dia akan sangat leluasa menjelaskan siapa Allah. Tidak semua orang bisa menjelaskan Allah, bahkan ada yang menyebut Allah saja tidak sanggup, paling tinggi 'Tuhan' atau ada yang mengatakan 'Yang di Atas'; 'Dia yang maha kuasa' dan lain sebagainya. Ada yang begitu berat sekali dalam menyebut, kerana memang dia miskin dalam keyakinan kepada Allah.
Orang yang miskin keyakinan sulit memberikan ketenangan kepada keluarganya, lantaran dia sendiri tidak punya ketenangan itu. Sebaliknya, orang yang sudah kenal dan akrab dengan Allah mempunyai ketenangan yang melimpah pada dirinya, akibatnya dia bisa menenangkan kepada banyak orang di sekitarnya. Wajahnya membuat tenang orang yang menatap, kata-katanya menenangkan orang banyak. Tidak semua orang menyuruh orang tenang, bisa membuat orang menjadi tenang. kerana yang berkatanya belum tentu tenang.
Orang yang sudah mengenal Allah, akan mengagihkan hartanya kerana dia tidak takut miskin, dia mengagihkan ilmunya, tenaganya, fikirannya. Itulah kekayaan sejati orang yang kaya, orang yang mudah sekali mendoakan orang lain, menolong orang lain. Dia tidak pernah berat untuk menyenangkan orang, menghormati orang, itulah orang yang kaya hakiki. Sebaliknya, ada orang yang miskin pada penghargaan. Ke mana-mana ingin dihormati, ingin dihargai, ingin dibedakan, ingin diperlakukan istimewa. Kalau tidak dihargai sakit hati. Dia sebetulnya miskin, dia belum berharga kerana yang berharga itu adalah jika kita dapat menghargai dan menghormati.
Bagi seseorang yang ma'rifat kepada Allah, dia tidak menginginkan apapun, dari siapapun, kecuali hanya dari Allah. Hidupnya tenang, mantap, tidak menjilat, tidak meminta-minta, tidak menggadaikan dirinya kepada mahluk. Mungkin rumahnya sederhana tapi batinnya megah, mungkin wangnya sedikit tapi batinnya kaya, mungkin tanahnya sempit tapi hatinya lapang, mungkin tubuhnya kecil tapi jiwanya besar, inilah kekayaan hati.
Kemegahan dunia dibagikan kepada siapa saja oleh Allah, termasuk kepada orang yang zalim, engkar, munafik, tapi kekayaan Ma'rifatullah tidak dibagikan kepada sebarangan orang. Inilah keadilan Allah SWT. Oleh itu jikalau kita ingin tergolong orang yang kaya, teruslah belajar mengenali Allah, dekati Allah dan jadikanlah diri kita menjadi orang yang senang dan cinta kepada Allah, segalanya Allah. Makin kukuh keyakinan, makin nikmat dalam hidup, makin mulia dan cemerlang dalam keperibadian.
Jangan sampai menganggap melimpahnya kekayaan duniawi sebagai kurniaan Allah yang memuliakan kita, belum tentu. Adakalanya berbentuk 'istidraj'. Oleh Allah diberi, tapi bisa menambah kerugian dan kesesatan, maka waspadalah. Kekayaan sesungguhnya adalah pada batin kita.
Mudah-mudahan dengan ilmu ini kita tidak menjadi risau dengan apa yang telah Allah janjikan. Allah yang bertanggungjawab terhadap segala keinginan kita, tapi kita punya kewajiban untuk menyempurnakan ikhtiar agar selalu berada di jalan Allah. Kalau kita berpegang lurus, Allah tidak mungkin menyia-nyiakan siapapun yang berpegang teguh di jalan-Nya. ***










.jpg)



